Monday, November 16, 2009

KIKO LOUREIRO


Pedro Henrique Loureiro (Kiko Loureiro) lahir di Rio de Janeiro, 16 Juni 1972. Dia adalah anak kedua dari tiga bersaudara, yaitu Ana Beatriz dan Zeca Loureiro (yang juga seorang gitaris). Kiko kecil menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan hobi bermain basket. Namun, dia dibesarkan dalam keluarga yang mencintai musik, jadi Kiko sudah terbiasa mendengarkan brazilian fusion dan bossanova, musik favorit orangtuanya.

Kiko mulai belajar musik pada usia 11 tahun dengan suatu “ketidaksengajaan”. Saat itu kakak Kiko, Ana, yang terpaut satu tahun lebih tua darinya, ingin belajar gitar akustik. Akhirnya ibu mereka, Lilian, memanggil guru les gitar. Namun, karena merasa bosan, Ana berhenti dan digantikan oleh Kiko, karena sang guru sudah terlanjur dibayar. Tadinya, Kiko yang kidal juga bermain gitar seperti orang kidal, namun karena sang guru mengatakan kalau posisi itu akan menyulitkan ketika belajar mengajar, maka Kiko bermain gitar seperti layaknya orang “normal”. Kiko sangat tekun dan serius dalam belajar gitar, hingga dia mengatakan kalau saat itu kegiatan sehari-harinya hanyalah makan, sekolah, belajar gitar dan tidur.

Ketika usianya 13 tahun, Kiko mulai tertarik dengan gitar elektrik, karena melihat tetangganya bermain gitar elektrik dan menurut Kiko kelihatannya keren. Lalu Kiko mulai belajar, sambil mendengarkan band-band metal era 80-an. Semakin dewasa, Kiko semakin menyukai musik metal, terinspirasi oleh gitaris-gitaris papan atas seperti Jimmy Page, Randy Rhoads, Eddie Van Halen, dan Yngwie Malmsteen. Gitar elektrik pertama Kiko adalah Gibson yang dibeli dengan harga murah, yang kala itu dibelikan oleh ibunya.

Menginjak usia 16 tahun, Kiko mulai bermain untuk 2 band, Legalyze dan A Chave, yang sering manggung di klub malam di Sao Paulo. Lalu akhirnya Kiko bertemu dengan Rafael Bittencourt dan Marco Antunes, dua orang yang akan mengajaknya bergabung dengan Angra, band yang membesarkan namanya.
Tahun 1992, Rafael Bittencourt mengajak Kiko bergabung dengan bandnya, Angra. Kala itu, Angra baru saja ditinggal gitarisnya, Andre Hernandes. Lalu Kiko resmi bergabung dengan Angra. Tahun 1993, saat masih berusia 21 tahun, Kiko sudah membuat sebuah video lesson, bertitel “Guitarra Rock”, yang berisi teknik alternate picking (palhetada alternada), tapping (brassa), scales, dll, serta licks a la blues, rock, dan metal.

Resmi bergabung dengan Angra, Kiko juga mengajar di Souza Lima Conservatory, sebuah sekolah musik di Brasil. Dengan musical ability, bakat dan performance yang luar biasa, Kiko diendorse brbagai music equipment, seperti gitar, amps, efek, dll.

Tahun 2003, Kiko kembali mengeluarkan video lesson dengan pengantar bahasa portugis, berjudul “Tecnica e Versatilidade”. Tahun 2005, Kiko merilis album solo pertamanya yang heavy metal, No Gravity. Di album ini, Kiko sebagai produser dan juga memainkan semua instrumen, kecuali drums. Album ini mendapat sambutan baik dan merupakan album solo yangh sangat dinanti para penggemar, karena gitaris berbakat seperti Kiko baru mengeluarkan album solo setelah berkarir lebih dari 12 tahun di Angra.
Tahun 2006, Kiko kembali merilis album solo berjudul Universo Inverso. Album yang jauh berbeda dengan album sebelumnya karena Kiko menyuguhkan Brazilian fusion. Album ini sebenarnya adalah album yang sudah lama direncanankan Kiko. Sejak lama Kiko ingin membuat sebuah album dengan nuansa jazz, karena Kiko sering jamming dengan musisi jazz Brazil di berbagai klub. Baru ketika tahun 2006, dia bisa mewujudkan keinginannya dan bekerjasama dengan musisi jazz teman nge-jamnya, Cuca Teixeira dan Yaniel Matos. Album Universo Inverso ini juga istimewa bagi Kiko, karena akhirnya sang ibu bisa mendengarkan putranya bermain musik favorit, Brazilian fusion.

Selain karier cemerlang di Angra dan solo, Kiko juga mendapat penghargaan, salah satunya The Best Guitar Player 2007 dari majalah musik Jepang, Young Guitar. Setahun kemudian, tepatnya tahun 2008, Kiko kembali merilis DVD lesson “Guitarra Techniques Para Iniciantes e Rock Fusion Brasiliero” dan tahun 2009, Kiko merilis album solo ketiganya, Fullblast, yang merupakan kombinasi antara heavy metal dengan irama khas Brasil.

Tidak hanya itu, Kiko juga menjadi gitaris untuk beberapa artis, seperti penyanyi Tarja Turunen (ex vokalis Nightwish) dan band side project bersama Thiago Esprito Santo bernama Neural Code. Kiko juga pernah tampil untuk Tribuzy, band metal asal Brasil.

Kiko Loureiro adalah seorang musisi berdedikasi tinggi. Walaupun banyak yang mengklaim dia sangat berbakat, berskill tinggi dan salah satu gitaris terbaik dunia, Kiko masih tetap berlatih setiap hari selama beberapa jam, dan itu sudah menjadi salah satu kebiasaannya. Dia senantiasa membuka diri untuk menerima hal baru dalam bidang musik dan senantiasa berusaha untuk memperkaya perbendaharaan dan kemampuannya dalam bermain gitar, piano dan instrumen tradisional Brasil. Kiko juga menulis kolom dan sering menjadi sampul majalah musik, seperti Guitar Player, Cover Guitarra dan Young Guitar. Saat ini kesibukan Kiko selain show adalah workshop ke berbagai negara. FYI, Kiko seorang kidal, namun tidak ketika sedang bermain gitar. Dia juga fasih berbahasa asing (Kiko berbahasa Portugis), yaitu Inggris, Prancis dan bahasa Jepang. Selain itu, Kiko juga sangat menyukai travelling dan fotografi.

KEVIN MOORE


Kevin Moore adalah salah satu dari tiga bersaudara Moore yang lahir 26 Mei 1967 dan dibesarkan di Long Island, NY, dan merupakan teman masa kecil John Petrucci. Kev, nama panggilannya, sudah akrab dengan piano sejak kecil. Dia belajar piano saat usia 6 tahun dan mulai menulis lagu saat usia 12 tahun. Saat SMU, dia dan John Petrucci bergabung dengan sebuah band. Selepas SMU mereka berpisah karena John Petrucci kuliah di Berklee College of Music di Boston, sedangkan Kev kuliah di SUNY Fredonia New York, mengambil kelas piano klasik. Lalu teman masa SMU-nya, John Petrucci, mengajaknya bergabung dengan band barunya, Majesty. Karena bakat bermusik Kev begitu besar, sehingga membuatnya hanya setahun kuliah di SUNY Fredonia, lalu keluar dan memilih bergabung dengan band baru anak-anak Long Island yang keluar dari Berklee ( John Petrucci, John Myung dan Mike Portnoy).

Tahun 1986, Kev resmi bergabung dengan Majesty. Dengan masuknya Kev sebagai keyboardis, nuansa musik dan penulisan lirik Majesty semakin kreatif. Di Majesty, Kev mulai mengasah kemampuannya dalam bermain keys dan menulis lirik. Kev menulis lirik beberapa lagu Majesty, seperti Vital Star, A Vision, dan Two Far. Ciri khas Kev sebagai penulis lirik yang emosional dan memiliki makna mendalam terlihat pada ketiga lagu tersebut. Ketiga lagu tersebut sering mereka bawakan saat show (yang kala itu hanya dilakukan di sekitar NY) dan demo. Kev juga menulis lirik Don’t Look Past Me (salah satu unreleased song DT yang terkenal), Pull Me Under (lagu yang paling sering dibawakan DT saat konser), Surrounded (salah satu lagu DT yang terkenal dengan permainan keys yang manis dan melodic), dan Wait For Sleep dimana Kev mengaransemen musik dan menulis liriknya. Ketiga lagu terakhir tersebut merupakan lagu yang ada di album kedua DT, Images And Words yang dirilis tahun 1992.

Usai tur sepanjang tahun, DT mulai mempersiapkan untuk album ketiga mereka. Kev menulis beberapa lirik lagu yang kelak akan masuk dalam album Awake, seperti 6.00, Lie, dan Space-Dye Vest. Kev juga menambah lirik To Live Forever yang awalnya ditulis oleh John Petrucci, yang membuat lagu tersebut semakin kental dengan nuansa “perasaan akan kehilangan seseorang”.

Rekaman Awake dilakukan di North Hollywood, CA, pada Mei-Juli 1994. Produser dari album ini, John Purdell dan Duane Baron, membawa angin segar bagi DT, mengingat produser album sebelumnya, David Prater, yang membuat personil DT merasa tertekan karena sikap kurang welcome yang membuat mereka merasa tidak nyaman. Purdell dan Duane memberi kesempatan bagi DT untuk mengeksplor gaya musik mereka dan menurut mereka, Purdell dan Duane sangat mengerti musik. Kev, tentunya, juga sangat menikmati hal ini, karena dia bisa mengeksplor suara-suara keys lebih luas daripada di kedua album sebelumnya.

Namun, Kev mulai “menjauh” dari DT, baik secara personal maupun musik. Kev semakin gemar memainkan musik yang sangat berbeda dengan DT, yaitu dark pop dengan nuansa techno yang kuat (seperti musik Depeche Mode, Peter Gabriel, dan Tori Amos). Kev juga semakin gemar membuat demo dan menyanyikan lagu-lagu ciptaannya sendiri. Suatu kegemaran yang mencurigakan bagi personel DT yang lain. Puncaknya adalah ketika Kev memutuskan untuk keluar dari DT saat mereka tengah rekaman album ketiga, bahkan proses pembuatan album belum selesai. Keputusan Kev yang sangat mengejutkan (terutama bagi John Petrucci) dan sangat tidak diharapkan oleh personel yang lain, karena kondisi band yang stabil, mereguk berbagai kesuksesan, dan fans yang sudah menganggap mereka sebagai sebuah kesatuan keluarga. Akhirnya Kev resmi out dari DT Agustus 1994, dan pengambilan gambar videoklip lagu Lie dan The Silent Man dilakukan tanpa Kev.

Salah satu peninggalan Kev yang controversial adalah Space-Dye Vest, salah satu lagu karangan Kev yang memiliki kesan dark dan techno, sedikit melenceng dari DT. Hingga saat ini, SDV masih jadi topic perbincangan hangat bagi fans DT. Kev mengaransemen dan menulis lirik lagu ini berdasarkan pengalaman pribadinya dan dibantu dengan Rich Kern, teman lamanya sewaktu kuliah di SUNY Fredonia, sebagai drum programmer. Hingga saat ini, SDV tidak pernah dimainkan DT secara live (termasuk A Vision dan Two Far, dimana lirik kedua lagu tersebut ditulis oleh Kev). Lirik lagu ini terinspirasi dari pengalaman Kev ketika melihat catalog pakaian dan tertarik pada seorang model yang memperagakan pakaian bernama Space-Dye Vest. Saat itu Kev merasa jatuh cinta dan terobsesi pada gadis tersebut, namun pada saat yang bersamaan dia merasa “apa yang aku lakukan?’, dan akhirnya Kev menyadari bahwa dia terjebak dalam kisah cinta dimana dia hanya akan dicampakkan dan sakit hati.

Hal lain yang menarik adalah lagu ini komposisi musik yang jauh dari kesan DT yang hingar bingar (beberapa fans mengatakan “this song was really Kevin Moore’s song”). Lebih terkesan ballad, melodic, dengan piano oriented dan lirik emosional serta beberapa samples yang membuat semua orang berpendapat bahwa lagu ini sangat dark.

Lepas dari DT, Kev pindah ke Santa Fe dan tinggal disana selama setahun. Disana Kev menulis dan merekam solonya dengan bantuan Rich Kern. Tahun 1995, Kev mencukur habis kepalanya dan pindah ke LA. Disana dia menulis lagu bersama mantan pemain drum Fates Warning (grup heavy metal yang merupakan “sahabat lama” Dream Theater), Mark Zonder. Akhirnya, resmilah Kev memulai grup musik barunya yang diberi nama Chroma Key, dengan Kev merangkap tiga tugas yaitu sebagai vokalis, keyboardis, dan bassist, serta Mark Zonder pada drums. Sementara posisi Kev sebagai keyboardis DT digantikan oleh Derek Sherinian.

Tahun 1996, Chroma Key kembali merekam beberapa lagu baru, dengan tambahan beberapa personil, yaitu Jason Anderson (gitar) dan Joey Vera (bass). Mereka meluncurkan sebuah album bertitel “Dead Air For Radios” dengan nuansa keys, synth, dan samples yang kental. Samples yang direkam selama perjalanan Kev keliling beberapa Negara, yang berisikan percakapan Kev dengan beberapa orang yang ditemui selama perjalanannya. Musik Chroma Key sangat jauh dari musik a la DT yang Progressive Metal. Chroma Key lebih easy listening dengan lirik puitis, yang hampir sebagian besar bercerita tentang kehidupan Kev.

Tahun 1999, Chroma Key mengeluarkan album baru yang diberi title “This Is A Recording”, yang berisi kumpulan demo Chroma Key sejak tahun 1995. Lalu pada tahun 2000, Chroma Key meluncurkan “You Go Now”, yang musiknya lebih manis dan sedikit bernuansa rock, dengan David Iscove sebagai gitaris.

Kev juga banyak menggunakan instrument unik seperti melotron dan Rhodes/piano elektrik, dimana tidak pernah digunakannya ketika di DT. Kev pun menambahkan suara-suara unik seperti suara bising radio, sound effect, dll. Hal inilah yang membuat Chroma Key unik dan berbeda.

Selain sibuk dengan Chroma Key, Kev juga bermain untuk beberapa band dengan status guest appearance. Kev bermain keyboards pada album Fates Warning yang berjudul “ A Pleasant Shade Of Gray”, yang dirilis tahun 1997. Namun, Kev tidak menulis part keys pada album tersebut, melainkan hanya memainkannya saja (Jim Matheos yang menulis part tersebut). Kev juga bermain keys pada beberapa pertunjukan Fates Warning dan band bernama On.

Maret 2007 lalu, Kev mengadakan live show untuk pertama kalinya sejak keluar dari Dream Theater. Pertunjukan yang dilakukan di Istambul tersebut mendapat sambutan meriah dari public, mengingat Kev belum pernah tampil solo setelah keluar dari DT dan setelah 12 tahun bersolo karir. Kev membawakan lagu-lagu Chroma Key dan pertunjukan tersebut disaksikan sekitar seratus orang.

Tahun 2003, gitaris Fates Warning, Jim Matheos (gitaris), mengajak Kevin Moore bekerjasama untuk side project baru. Project yang diberi nama Office of Strategic Influence (OSI) ini melibatkan pula Sean Malone (bass) dan Mike Portnoy (drums). Kev bertugas sebagai keyboardis dan vokalis. Waktu yang cukup lama (9 tahun) bagi Kev dan Mike untuk bekerjasama kembali, selepas hengkangnya Kev dari DT. OSI meluncurkan album bertitel sama dengan nama grup, Office of Strategic Influence. Album berisi 10 lagu ini merupakan campuran dari dark dan melodic a la Chroma Key dengan gitar metal a la Fates Warning dan DT. Seluruh lirik ditulis oleh Kev.

Tahun 2004, Kev pindah ke Istambul, Turki. Disana dia bekerjasama dengan seorang produser film berjudul Okul. Kev mendapat tugas untuk menggarap soundtrack film bergenre horror tersebut. Soundtrack yang dikemas dalam album berjudul “Ghost Book”, merupakan album solo di bawah nama Kevin Moore. Selanjutnya, Kev menggarap soundtrack film “Age 13”. Soundtrack tersebut dikemas dalam album Chroma Key berjudul “Graveyard Mountain Home”. Akhir 2006 lalu, Kev menggarap soundtrack untuk film Turki berjudul “Kucuk Kiyamet”.

Album kedua OSI dirilis tahun 2006, dengan title Free. Album berisi 11 lagu berkisah tentang kehidupan pribadi Kev. Tidak jauh beda dengan album sebelumnya, Free menonjolkan keys dan melodi ala Kev, dipadukan dengan gitar ala heavy metal. Musik di album ini lebih tedengar “happy”. Seperti album sebelumnya, Free juga memiliki video klip. Beredar pula rumor bahwa OSI akan mengelar tur, namun belum terlaksana hingga saat ini.

Banyak gosip beredar selama Kevin Moore vakum dan tidak ada pemberitaan mengenai dirinya. salah satunya gosip kalau Kevin meninggal dunia. Namun ternyata Kevin justru kembali dengan album terbaru OSI bertitel Blood yang rilis tahun 2009.

THE MOORE ABOUT MOORE

Beberapa fakta menunjukkan bahwa Kevin Moore ingin menghilangkan imej DT yang melekat di dirinya. Mulai dari jenis musik yang diminatinya, yang sangat jauh berbeda dengan musik yang dimainkannya ketika bergabung di DT. Kemudian keputusannya mencukur habis kepalanya hingga botak, yang terkesan “tidak ingin sama dengan penampilan personil DT dan penampilannya masa lalu”. Tetapi yang paling membuat sewot personil DT (terutama Mike :D) dan fans DT adalah penolakan keras dari Kev untuk setiap undangan reuni DT. Menurut beberapa sumber, Kev menolak undangan reuni DT karena dia “lebih suka memandang ke depan daripada melihat ke belakang”. Bahkan Kev juga menolak ajakan DT untuk berkontribusi dalam pembuatan buku biografi Dream Theater yang berjudul “Lifting Shadows”.

Salah satu hal yang menarik dari Kev adalah kehidupan dan sikapnya yang misterius. Tak banyak yang tahu alasan jelas mengapa Kev keluar dari DT secara tiba-tiba bahkan sebelum penggarapan Awake selesai. Tak banyak pula yang tahu mengapa Kev memilih jalur musik yang amat sangat berbeda dari DT, walaupun seperti diketahui sejak Kev mulai bermain untuk band ketika SMU, dia sudah memilih jalur rock. Dan mengapa dia terkesan ingin menghilangkan imej DT (yang senantiasa akan melekat erat di dirinya), dengan segala cara, termasuk menolak setiap ajakan DT untuk show reuni. Satu sikap Kev yang kurang disukai penggemar DT.

Selain itu, kehidupan pribadi Kev pun tidak banyak diekspos. Salah satunya adalah tidak banyak orang yang tahu akan marital status Kev. Juga salah satu hobi Kev yang menarik….tinggal berpindah-pindah alias nomadic.

Hobi Kev selepas hengkang dari DT adalah berpindah-pindah tempat tingal. Bagaimana tidak, Kev sudah tinggal berpindah dari satu kota ke kota lain di Amerika. Tahun 2000, Kev pindah ke LA dan mengikuti kelas di California Institute of The Arts, dimana dia membuat documenter berjudul “Octember Revolution”. Lalu, dia sempat tinggal di Costa Rica, karena pekerjaaannya sebagai aktivis untuk Radio for Peace International. Di sana dia sempat menulis beberapa lagu yang lalu dirangkum dalam sebuah album berjudul “Memory Hole” tahun 2004. Tahun 2004 pula Kev pindah ke Istambul dan membuat soundtrack untuk film local.

Belum sampai disini saja. Tahun 2006, Kev sempat tinggal di Quebec, Kanada, dan menulis beberapa material untuk OSI. Saat ini, Kev tinggal di Turki. Karena nomadic tendencies-nya itu, Kev selalu membawa gear modern dan compact, agar mudah dibawa kemanapun. Dan hingga saat ini, Kev masih menggunakan Kurzweil 2000, gear yang digunakan sejak pembuatan Awake.

Entah apa yang membuat Kev tertarik dengan tinggal berpindah-pindah, namun penggila Mercedes Benz ini selalu muncul ke permukaan dengan musik khasnya yang dark, melodic, dan keys oriented, serta liriknya yang emosional dan memiliki makna mendalam.

HOW TO SAY MY NAME ?

Many non-Indonesian people didn’t know how to say my name (and I think you didn’t know either :D )

My real name is Dyah Prabaningrum. My grandpa gave me the name because he thought that was a very good name. It was taken from old Javanese languange. “dyah” means “lady” and “prabaningrum” is from 2 words, that is Praba means “lantern” or “beacon” and “ningrum” means “woman”. For my family, my name is such a beautiful name, but I never think that was a nice name to call anyway :D…It because not many people (sometimes Indonesian people) knows how to write and to say my name correctly (which could make a weird meaning by that). For example, they often write my name as “diah”, which actually replacing “y” with “i” is a HUGE mistake. “diah” (according to my grandpa) has no proper meaning. Then, MOST of people make mistake to write “prabaningrum” into “purbaningrum”. And I’m really sick about it. “purba” sometimes associated with “old”, “ancient”, and many things from pre-historic period (although in Bahasa Indonesia, purba means old and ancient, few Indonesian people use it as name), and it’s totally different than “praba” meaning.

Many foreign people with non-Indonesian and Malay languange speaking, don’t know how to say my name. Well, Indonesian usually use their first name as their nickname. My nickname is Dyah. Dyah is just similar with when you’re saying “Dee-Ah”. The next one is Prabaningrum, is just similar with when you’re saying “Pra – Bah – Ning (is like “ninguem” in Brazilian Portuguese) – Room”.

Incorrect writing and saying name sometimes makes someone feel disturbed. So I think it’s important for us to notice our friends name, so we could write and say it correctly. To know and call people name could make a great “chemistry” among friends, so write it and say it correctly with love :)

Saturday, May 23, 2009

Why did I interested to learn Brazilian Portuguese ?


I gotta tell a story about the reasons I take Portuguese as the second foreign language (the first is English) that I want to learn it a lot.

I remember when I was 8 years old, my mom loved to watch a Brazilian soap opera (we called it “telenovela”) which played in our national television broadcast, Escrava Isaura. The music intro was a traditional Brazilian choir (or I think so :D) and it’s really interesting ! The telenovela played in late night so my mom really straight not allowed me to watch it, but then she let me wake just to listen the music intro and watch the drama for a minutes…lol. For my young age, the drama is quite easy to understand because it has dubbed into Indonesian, but I don’t understand with the story, hahaha. The point was, I capture that Brazil is a nice country, after my mom told me the story of every episodes of Escrava Isaura.
When I was 13, I bet Brazil won the World Cup ’94. And it’s true…yeahh !! I got really enthusiac when I listen to the Brazilian anthem. Because I grow older my mom let me to watch another Brazilian soap opera (lol). I captured many many things about Brazil during that time. And my interest about Brazil began….

I might late to learn Brazilian Portuguese. I start to learn it last year, by myself. It’s difficult to find a Portuguese language course here and all books and dictionaries related to it. So I got many reading materials from internet and imported books, and…to sing the whole complete parts of Hino Nacional Brasiliero ( I think I’ve fluent enough to sing it now ;) ).

The most thing that inspiring me to learn the language and the culture of Brazil was a metal band called Angra. I just can’t write any comments about this band, about how come they inspiring me, how they’ve changed my mind and to be more open mind to anything. And of course, I got several nice friends that live in Brazil. One thing that I can say now is : MUITA OBRIGADAAAAA, Angra !!!!


You rule \m/

Kiko Loureiro “FULLBLAST”



Kiko Loureiro, gitaris band power metal asal Brasil, Angra, kembali merilis album terbarunya tahun 2009, berjudul “Fullblast”, setelah sebelumnya merilis “No Gravity” (2005) dan “Universo Inverso” (2006). Di Fullblast, musik terdengar lebih kompleks dan terasa lebih universal daripada 2 album solo sebelumnya karena Kiko memasukkan berbagai elemen, mulai dari efek gitar wah wah dipadu dengan shredding kencang ala Kiko, irama samba dan musik latin, irama pop a la Amerika, perkusi khas Brasil, hingga gitar akustik yang jernih dan mellow. Usaha Kiko menggabungkan antara heavy metal yang kental seperti di album No Gravity dengan jazz dan irama khas Brasil di album Universo Inverso, tampaknya cukup berhasil di album berisi 12 track ini, karena pada setiap track, pendengar akan menemukan nuansa yang berbeda dan (bagi fans yang telah kenyang melahap No Gravity dan Universo Inverso) beberapa licks dan riff yang mengingatkan pada beberapa lagu di 2 album sebelumnya…indah, melodis, namun tetap khas dengan licks a la Kiko.

Track pertama (Headstrong) mengingatkan potongan dari “Pau de Arara” dan “No Gravity” di album No Gravity. Interludenya agak jazzy, mengingatkan pada Universo Inverso. Di track kedua (Desperado), nuansa metal-latin kental sekali. Kali ini Kiko dengan gamblang memasukkan sura berimbau (perkusi Brasil) dipadu dengan lick gitar dengan “tone” latin dan harmoni a la musik Brasil. Irama yang digunakan juga bervariasi, sehingga track ini (menurut saya) sangat istimewa. Track ketiga (Cutting Edge), Kiko bermain dengan melodi yang cepat dan beremosi. Namun langsung “dibawa” ke irama yang jauh berbeda di track keempat (Excuse Me), yang berupa ballad manis (yang juga mengingatkan saya pada beberapa track di Universo Inverso) dengan nada-nada mayor. Lick Kiko lumayan ekspresif dan soulful disini. Setelah mendayu dengan track keempat tadi, pendengar langsung “dihajar” dengan musik Brasil yang kentaall..diawali dengan samples dari film “Deus e o Diabo na Terra do Sol”, Kiko menyambut pendengar dengan harmoni ala Brasil dan perkusi. Mengingatkan saya pada lagu “Vovó Selma” yang ada di DVD lesson Kiko “Tecnica e Versatilidade”. Track berdurasi 6 menitan ini memang didominasi dengan irama khas Brasil.

Track selanjutnya (A Clairvoyance), sedikit mengingatkan pada lagu “Waiting in Silence” milik Angra. Kiko ternyata tidak hanya jago membuat kita “mangap melongo” dengan permainan gitar yang cepat bersih, shredding gila, namun juga mampu membuat kita tercengang dengan kemampuannya meramu musik yang mellow dan “soulful”. Sesuai dengan judulnya, mungkin Kiko ingin membangun nuansa “sensor ekstra” yaitu…sifat bijak dari manusia. Saya langsung teringat dengan kalimat yang tertera di sampul album ini, “The road of excess leads to the palace of wisdom” (W.Blake), yang katanya adalah kalimat yang menginspirasi Kiko pada umur 18-19 tahun ketika dia menemukan kalimat ini ketika tengah membaca buku. Lalu, dilanjut dengan track ketujuh (Corrosive Voices), Kiko meramu heavy metal dengan samba, dengan ritme Brasil. Kemudian kita akan mendengarkan semi-ballad dengan irama a la pop Amerika yang ear catchy di track kedelapan (Whispering).

Track selanjutnya (Outrageous), diawali dengan orkestra (yang menurut saya terdengar seperti irama timur tengah), perkusi brasil, dan petikan gitar akustik Kiko yang cukup manis dan membuat atmosfer “high” dan mellow. Namun langsung dihentak dengan kencangnya speed metal a la Angra (saya harus mengatakan, lagu ini Angra buangeeett !!). Drums bertubi-tubi dan shredding Kiko yang gila-gilaan.,..kontras dengan intro yang begitu lembut dan indah. Atmosfer langsung berubah menjadi atmosfer Angra. Ditutup dengan fade out, lalu kembali lagi ke lembutnya intro. Track ini luar biasa.

Track ke sepuluh (Mundo Verde atau “bumi hijau”), Kiko menyuguhkan permainan gitar akustik yang jernih dengan (lagi-lagi) irama dan harmoni khas Samba Brasil. Dianjut dengan track sebelas (Pura Vida), semi ballad dengan iringan keys (Kiko yang mainkan) dan suara gitar akustik. Track ini lebih simple, namun ekspresif. Album ini ditutup dengan track berjudul “As It Is, Infinite”, yang hanya berisi petikan gitar akustik Kiko. Melodis dan indah, hamper mirip dengan “Choro de Criança” di album No Gravity, namun nuansa mellow begitu kental.

Di album ini, Kiko menggunakan gear : Tagima (gitar elektrik), Zoom (efek), d’Addario (senar), Santo Angelo (kabel), Morley (wah wah), dan Seymour Duncan (pickup). Akhirnya, album ini sangat sangat saya rekomendasikan untuk anda dengar dan simak, karena memang sangat bagus, kompleks, dan kreatif :angkat lima jempol:


FULLBLAST
Kiko Loureiro : gitar, keys, programming, additional percussion
Felipe Andreoli : bass
Mike Terrana : drums
Dalua : perkusi
Yaniel Matos : rhodes (di track 8)